Bambang Pramusinta
Sang Raja Bulukatiga, Putra Ksatria Kembar PandawaBambang Pramusinta adalah seorang pemuda sakti dari Desa Pandansurat yang takdirnya terombang-ambing antara pengabdian dan pengkhianatan. Meski pada mulanya dikenal sebagai rakyat jelata yang mengabdi pada Kerajaan Bulukatiga, sejarah mencatat bahwa dalam nadinya mengalir darah ksatria Pandawa. Ia adalah putra dari Raden Nakula yang lahir di tengah badai pengungsian akibat hancurnya Kerajaan Awu-awulangit.
Silsilah & Keluarga:
- Ayah: Raden Nakula
- Ibu: Dewi Suyati
- Istri: Endang Rayungwulan
- Adik Kandung: Endang Pramuwati
- Kedudukan: Raja Bulukatiga
Lakon: Surat Maut & Takdir yang Tertukar
Kisah ini dimulai dari kekaguman Prabu Tegalelana terhadap kesaktian Pramusinta yang mampu menaklukkan harimau liar tanpa membunuhnya. Namun, kekaguman itu berubah menjadi nafsu durjana ketika sang raja melihat kecantikan istri Pramusinta, Endang Rayungwulan. Terbakar api cemburu dan keinginan untuk memilikinya, Tegalelana menyusun rencana keji untuk membinasakan Pramusinta secara halus.
Pramusinta diutus mengantarkan surat tersegel kepada Raden Arjuna di Madukara. Tanpa ia ketahui, surat itu berisi fitnah bahwa Pramusinta adalah pemberontak berbahaya yang harus dihukum mati. Di kejauhan, di Desa Pandansurat, Rayungwulan didera mimpi buruk; ia melihat suaminya berjalan di kegelapan abadi lalu diterkam serigala besar—sebuah pertanda nyata akan bahaya yang mengintai di ujung perjalanan sang suami.
Sesampainya di Madukara, Arjuna yang terpancing emosi hampir saja melepaskan panah mautnya. Namun, kearifan Kyai Semar menyelamatkan keadaan. Melalui potongan surat yang dibaca kembali dan kemiripan wajah Pramusinta yang identik dengan Raden Nakula, terungkaplah kebenaran yang mengejutkan. Pramusinta bukan hanya sekadar utusan, ia adalah keponakan Arjuna sendiri yang selama ini dicari-cari oleh ayahnya.
Mengetahui kelicikan Tegalelana, kemarahan Pandawa tak terbendung. Pramusinta kembali ke Bulukatiga bukan sebagai abdi yang tertindas, melainkan sebagai ksatria penegak keadilan. Setelah Tegalelana tewas dalam pertempuran, Pramusinta akhirnya diangkat menjadi raja demi melindungi rakyat Bulukatiga, memenuhi takdirnya sebagai ksatria keturunan Pandawa.
Bentuk Wayang
Raden Pramusinta ini mengacu pada wayang keraton Surakarta. Berwujud wayang bambangan, kain bokongan sembuliyan, memakai kalung ulur, sumping waderan dan ada kinjengan (grudan kecil) di dalam gelungnya. Wujud wayang seperti ini mirip dengan Gandawardaya umumnya akan disebut sebagai wayang Pandu muda walau sebenarnya beda. Pramusinta memaki jamang lidi sak ler atau turidha, dan memakai sinom. Raut mukanya juga lebih menunduk dan terkesan lebih tenang daripada Gandawardaya.

