Batara Guritna
Batara Guritna adalah sosok guru sejati dari Raden Gatotkaca. Hubungan mendalam antara guru dan murid ini tercermin dari nama Gatotkaca yang juga sering disebut "nunggak semi" dengan nama Guritna.
Konon pada zaman dahulu, guru Gatotkaca yang asli adalah Guritna, bukan hanya Resi Seta. Namun, karena keterbatasan fisik wayang Guritna yang jarang tersedia di kotak wayang, para dalang kemudian berinisiatif menggunakan wayang Seta praban sebagai visualisasi pengganti. Sementara wayang Seta praban juga banyak yang tidak punya, akhirnya diganti dengan Seta biasa. Lama-lama semua pakai Seta. Fenomena ini tumbuh melalui tradisi lisan atau "gethok tular" yang akhirnya mengkristal menjadi pakem yang kita kenal sekarang, jadi guru Gatotkaca adalah Seta padahal ada juga Guritna, tentunya selain Anoman
"Fragmen Kisah: Manunggalnya Sang Guru"
Di hadapan Batara Narada, Resi Guritna tersentak menyadari bahwa ksatria muda di depannya, Gatotkaca, adalah keturunan dari gurunya sendiri, Resi Manumayasa. Dengan air mata mengambang, ia memeluk Gatotkaca erat: “Oh... cucuku, ngger... darah kita terhubung, meski zaman telah berjeda sangat panjang.” Atas perintah Narada, Resi Guritna pun memilih untuk manunggal. Ia berpesan agar semangatnya menitis dan membimbing Gatotkaca dari dalam. “Setelah kau menjadi wadahku, jagalah namaku. Berbuatlah kebaikan,” ucapnya lirih. Gatotkaca menjawab dengan janji setia untuk menjaga warisan leluhur. Seketika, cahaya putih keemasan memancar, tanda penitisan suci telah sempurna. Resi Guritna lenyap, menyatu dengan jiwa Gatotkaca, membawa kesejukan kembali bagi jagat raya.
Bentuk Wayang:
Visualisasi Batara Guritna sering kali meminjam anatomi ksatria pendita. Awalnya... (lanjutkan di sini)
